World Of Warcraft, WoW Short Sword

Favorite Story

Diberdayakan oleh Blogger.

My Avatar

My Avatar
http://dreamself.me/
Rabu, 11 Juni 2014


Because Night and Day Cannot Stand Together

http://gamersyndrome.com/wp-content/uploads/2014/02/night-and-day-8.jpg 

Aku benci diriku. Pendek, gendut, kulit kusam berminyak, jerawatan, berwajah bulat, sipit, kelopak mata tunggal, pokoknya semua hal yang bisa kau bayangkan tentang cewek buruk rupa ada padaku. Karena itulah, setiap malam aku selalu berdoa agar terjadi keajaiban yang akan membuatku cantik. Siapapun yang mengabulkannya tak masalah, entah itu Tuhan ataupun Setan.



Wanita yang paling kubenci adalah Erika. Kulitnya putih mulus wajahnya selalu cerah. Matanya besar dengan kelopak mata ganda alami tanpa operasi. Dia juga langsing, dan tingginya juga pas, tidak terlalu tinggi. Dia juga ramah, selalu menyapa setiap orang, pintar, pandai olahraga, populer, pokoknya bisa dikatakan dia adalah kebalikan dari diriku yang pemurung, tidak punya teman, bodoh dan tidak pandai olahraga ini. Karena hal itulah aku membencinya. Karena dirinya yang cantik, ia bisa mendapatkan semuanya. SEMUANYA. Puluhan laki-laki mengantri agar menjadi pacarnya. Seluruh anak cewek mendekatinya agar dapat menjadi teman dekatnya. Dia juga disukai para guru karena unggul dalam segala hal. Baru-baru ini, ia bahkan menjadi Ketua OSIS di sekolah kami. Tentu saja hal itu semakin membuatku membencinya.


Dan kau tahu, perasaan benci itu semakin lama semakin besar hingga akhirnya muncullah perasaan baru. Perasaan ingin MEMBUNUHNYA.


Mungkin kalian akan menganggapku seorang psikopat gila, ingin membunuh seseorang hanya karena ia punya kelebihan di banding dirimu. Tapi tidak, aku bukanlah psikopat. Aku tahu hal itu salah, tapi kau pasti ingin melakukan hal yang sama jika menjadi aku. Kalian berada di dalam tempat yang sama, tapi kalian bagai Siang dan Malam. Yang satu dicintai semua orang dan yang satu lagi dibenci semua orang. Tidak mungkin ada dua siang dalam satu tempat. Karena itulah, siang yang ada sekarang harus dilenyapkan agar malam dapat menjadi siang yang baru.


Setidaknya, itulah yang aku percaya. Dengan membunuh Erika, aku percaya aku akan mendapatkan semua yang ia miliki. Kecantikan, Kepopuleran, Kepandaian, semuanya. Hanya dengan cara itulah, aku bisa mendapatkan semua yang Erika miliki.


Karena itu, aku sudah menyusun rencana untuk membunuhnya dengan sangat teliti. Dan malam ini, hal itu akan kulaksanakan agar besok akan terlahir diriku yang baru.


“Halo?” ujarku melalui telepon umum. Aku tidak bodoh-bodoh amat. Aku tidak ingin semua rencana menjadi gagal jika polisi berhasil melacakku. Karena itulah aku menggunakan telepon umum yang berada jauh dari rumah, lalu terlebih dahulu berganti pakaian di wc umum dan mengenakan topi, kacamata hitam serta masker, agar aku tidak dikenali oleh orang-orang ataupun dari CCTV. 


“Ya?” jawab sebuah suara yang berasal dari seberang telepon.


“Erika? Ini aku, Miyu. Aku sedang ada masalah. Kumohon tolong aku. Bisa kita ketemuan sekarang?” Aku menggunakan nama salah satu teman akrabnya agar ia tidak curiga dan kedokku juga tidak terbongkar.


“Miyu? Tapi suaramu agak berbeda.” Ujarnya terdengar curiga. Tapi hal itu juga telah masuk dalam rencanaku.


“Iya… Hiks, aku baru saja dipukuli Hiro. Wajahku lebam semua, leherku juga dicekik, karena itu aku kehilangan suaraku.”


Aku dapat mendengar suara pekikan kecil dari Erika yang menandakan bahwa ia sangat terkejut. Hiro adalah pacar Miyu dan Erikalah yang mencomblangkannya. Karena itu ia pasti sangat tidak yakin bahwa Hiro tega berbuat seperti itu.


“Tolong aku, Erika. Aku butuh bantuanmu. Tolong temui aku sekarang…” kataku dengan masih pura-pura terisak.


“… Baiklah, dimana kau sekarang?” tanyanya lalu aku memberitahukan dimana tempat kami akan bertemu setelah itu memustuskan panggilan telepon.


Ring Ring Ring


Suara deringan HP terdengar melalui tasku. Ternyata Erika menelpon Hiro untuk memastikan hal yang sebenarnya. Tetapi aku telah mengantisipasi hal itu. Aku sengaja membeli hp yang sama persis dengan punya Miyu dan Hiro, lalu merusak kedua HP itu dan menukarkan dengan HP mereka yang asli, sehingga mereka tidak akan curiga dan mengira bahwa HP itu hanya rusak. Bisa gawat kalau sampai mereka melapor tentang kehilangan HP kepada polisi dan setelah dilacak, HP itu ternyata berada padaku.


Jadi, yang kulakukan adalah membiarkan hp itu berdering dan tidak mengangkatnya. Setelah mencoba untuk menghubungi Hiro selama 2 kali, akhirnya Erika memutuskan untuk menghubungi HP Miyu. Kali ini aku mengangkatnya.


“Halo, E-Erika?” kataku terisak.


“Miyu?”


“Erika, kau dimana? Cepat datang, aku menunggumu di sini,” ujarku memaksanya.


“Tunggu Miyu, aku segera kesana sekarang,” katanya lalu mematikan sambungan telepon.

Kali ini aku yakin ia sudah sepenuhnya percaya padaku. Sekarang tinggal menjalankan rencana berikutnya.


~~~~~


“Miyu? Miyu!” aku dapat mendengar suara seseorang yang sedang memanggil dalam keadaan panik.


Tempat yang kupilih ini sangat sempurna, di pelabuhan dekat sebuah gudang yang tidak terpakai lagi. Tepat tadi sore adalah jadwal pengantaran barang secara massal dan baru akan kembali siang besok . Karena itulah, malam ini adalah malam sempurna untuk melancarkan pembunuhan ini. Tidak akan  ada orang yang datang untuk menolongnya walau ia berteriak sekeras mungkin. Selain itu, setelah membunuhnya, aku dapat membuang mayatnya ke laut dengan mengikat batu ke tubuhnya agar tidak dapat ditemukan oleh polisi dan hanya dianggap sebagai orang hilang. Rencanaku sangat sempurna. Aku yakin hal ini akan berhasil dan besok aku dapat memulai hidupku sebagai siang yang baru.


“Miyu?, Miyu!” ujarnya lagi. Berbeda dengan melalui telepon, aku tidak akan bisa mengelabuinya jika aku mengeluarkan suaraku sekarang. Karena itulah, aku hanya diam saja dan sebaliknya aku memukul-mukul tong minyak kosong di gudang yang tidak terkunci itu untuk memancingnya masuk kedalam lalu aku pergi bersembunyi di belakang tumupukan tong minyak kosong.


“Miyu, kau disana?” tanyanya lagi. Sesuai dengan rencanaku, ia masuk kedalam dan kembali memanggil nama Miyu seraya mengitari isi gudang ini. Akhirnya jarak kami semakin dekat akhirnya tinggal sedikit lagi aku bisa menyerangnya secara mendadak dan membunuhnya. Tinggal sedikit lagi.


Ting


Aku yang terlalu semangat akibat hal itu secara tidak sengaja menyenggol salah satu tong dari tumpukan tersebut yang menimbulkan bunyi kecil hingga membuatnya tersadar di mana lokasi persembunyianku. Tapi tak apa. Tak mungkin rencana yang sempurna ini bisa gagal hanya karena kesalahan kecil.


Namun ternyata aku salah. Ia terlalu waspada.


“Miyu? Tolong jawab aku kalau itu kau, Miyu,” katanya dengan tetap diam di tempatnya sekarang yang berjarak sekitar 5 meter dari tempatku berada.


Sial, sial, sial! Jika saja jarak kami hanya terpaut 3 meter, aku dapat menyerangnya secara mendadak ketika ia lengah sehingga ia tidak dapat melawan. Tapi, bukan hanya jarak kami terpaut 5 meter, ia kini sudah tahu di mana keberadaanku sehingga ia bisa waspada dan mengelak seranganku lalu kabur untuk meminta bantuan. Bagaimanapun, aku tidak yakin bisa mengejarnya jika ia lari sekuat tenaga.


Tenang, aku yakin bisa mengatasi hal ini.


“Hiks... hiks...” aku mulai menangis. Dengan begitu aku tidak perlu mengeluarkan suaraku. Untunglah ia mengendurkan kesiagaannya dan kini mulai berjalan maju.


“Mayu...?”


Sedikit lagi....

....

....

....

SEKARANG!


Aku segera keluar dari persembunyianku dan menusuknya. Berkali-kali, berulang kali. Kurusak wajahnya yang cantik itu, kusayat kulitnya yang mulus itu, kupotong rambutnya acak-acakkan lalu tak lupa kucongkel bola matanya yang indah. Ya, inilah upayaku. Upaya yang harus kulakukan untuk menjadi siang.



~~~~~

“Kasihan sekali...”

“Jadi anak itu menyakiti dirinya sendiri, ya?”

“Siapa sangka kalau ternyata ia memiliki kepribadian ganda?”

“Untunglah ada seseorang yang berhasil menemuinya, kalau tidak...?”

~~~~~


Sekarang aku berada di rumah sakit. Walau begitu, jerih payahku berhasil. Aku telah menjadi siang yang baru menggantikannya.


Seorang Dokter melangkahkan kakinya memasuki kamar tempat dimana aku dirawat, Ia menanyaiku dengan ramah, yang tidak pernah dilakukan oleh orang-orang ketika aku masih menjadi malam.


“Kau sudah baikan?”


Aku mengangguk.


“Sudah bisa bisa mulai bicara?”


Aku mengangguk lagi.


“Baiklah, ayo kita mulai sesi terapi ini. Tolong sebutkan namamu.”


Aku lalu tersenyum.


“Erika.”

0 komentar:

Posting Komentar