World Of Warcraft, WoW Short Sword

Favorite Story

Diberdayakan oleh Blogger.

My Avatar

My Avatar
http://dreamself.me/
Rabu, 11 Juni 2014


Act 1
Prologue: Remember My Name!
Chapter II (Part A)
“…… Bahwa lelaki bernama Leon inilah yang menghabisinya.”

- Ouvren Town -
- Front of Louverdis Family Residential -
- At Mid Night -

‘Hmm…. Aku harus pikirkan cara untuk masuk ke kediaman Louverdis Family ini. Masalahnya, penjaganya ada ratusan orang dan di dalam residential ada lebih dari 1000 orang. Bagaimana caranya masuk kedalam ya?’ pikir seorang laki-laki yang berumur sekitar 20 tahunan dan memakai jubah coklat kusam dan berambut kuning keemasan itu. Dia bersembunyi di belakang pohon yang letaknya kurang lebih 50 meter dari kediaman Louverdis Family.

‘Uggh…. Coba kalau aku bisa pakai liquid merah ini. Masalahnya, ini hanya bisa dipakai di ruang tertutup. Bau Liquid ini sangat mudah tertiup angin sehingga tidak akan berhasil jika digunakan di luar ruangan. Haaah…. Apa yang harus kulakukan?’


Dia berjongkok, memegang dahinya dan terlihat frustasi. Ia berpikir keras untuk melewati ratusan penjaga ini.

‘….. Tidak ada cara lain….’

Dia lalu berdiri dan mengeluarkan sebuah botol kecil dengan cairan berwarna kuning tua. Ia memejamkan mata. Masih tersirat rasa keraguan dalam dirinya untuk meminum cairan tersebut.

“…Aku terpaksa harus menggunakan ini, Edge,” gumamnya lalu membuka matanya dan segera meminum cairan dari botol itu hingga habis.  Setelah diyakininya rencana ini akan sukses walaupun ada kemungkinan besar akan gagal, dia melangkah maju dengan menekan rasa keraguannya dan berjalan dengan lankah pasti.

“Hmm…. Siapa kau!?” bentak salah satu penjaga ketika melihat seorang lelaki berambut kuning keemasan berjalan mendekat.

“Katakan apa kepentinganmu, sekarang!” ancam penjaga itu sekali lagi karena tidak mendapat respon atas pertanyaan sebelumnya.

“A…. Anu…. Itu…. Hahaha…,” tawanya dengan tampang bodoh.

“Hei, jangan main-main ya. Kau mau cepat mati?!” Tanya penjaga itu dengan suara meninggi tanda kesal begitu juga dengan penjaga lainnya.

“Uhh….. tentu saja tidak….” Jawab lelaki itu takut-takut namun tampak direkayasa.

“Ya? Jadi kau memang mau mati? Baiklah!” teriaknya dan bersiap menekan pelatuk pistolnya.
Para penjaga lain pun juga bersiap menekan pelatuk pistol mereka dan hanya dalam beberapa detik lagi laki-laki itu akan menjadi  mayat.

“………”

Lelaki itu hanya tertunduk dan terdiam, seolah sudah menerima nasibnya “………”

“……… Sudah kubilang……”

“…….. Aku tidak kesini untuk mati…..”

“….. Apa kalian tidak dengar…. Hei…. SAMPAH?”

Lelaki itu mengangkat kembali wajahnya tepat saat ia mengatakan kata sampah. Sinar matanya berubah dan raut wajahnya menjadi dingin dan tanpa ekspresi.

SAMPAH katamu!!!??” Teriak penjaga yang bernama Paul itu. Dia benar-benar merasa tersinggung, marah dan kesal. Bukan hanya dia, tapi juga ratusan penjaga lainnya.

“Heh…” Lelaki itu lalu tertawa sinis.

“Ternyata, sampah juga bisa bicara ya?”

Tanpa banyak bicara lagi, Paul langsung menekan pelatuk pistolnya.

DOOOR!

Suara tembakan memecahkan keheningan di malam itu. Hal ini membuat orang-orang yang berada di dalam kediaman Louverdis Family siaga.

 ~~~~~~~

0 komentar:

Posting Komentar