Favorite Story
-
She’s a Vampire introduction Genre: Supranatural, Mistery, Romance Comedy, Drama Synopsis: Y amada Tendou (17) Sebenarnya hanyala...
-
Chapter 5 Gadis vampire pembuat masalah' Bag 4 “Eng... Forte?” Kataku. “Panggil saja Cylenne.” Katanya sembari menggandeng...
-
Act 1 Prologue: Remember My Name! Chapter I (Part A) - Ouvren Town - - Inside Hogg bar - - At Mid day - “Louverdis Family?” seru Dugs H...
-
Act 1 Prologue: Remember My Name! Chapter IV (Part A) DOOOR! DOOOR! DOOOR! - Ouvren Town - - In a room at top floor(6 th floor...
Mengenai Saya
Diberdayakan oleh Blogger.
Rabu, 11 Juni 2014
Act 1
Prologue: Remember My Name!
Chapter I (Part B)
- Ouvren Town
-
- Inside Hogg
bar -
- At Mid day -
- At Mid day -
- After the Shooting Incident -
Dugs
membersihkan barnya dibantu beberapa pelanggan lain yang kasihan dengannya.
Mereka juga turut membantu memasukkan jasad tersebut ke dalam kantung mayat.
“Orang
ini benar-benar menyusahkan saja,” kata salah seorang pelanggan yang membantu
membersihkan darah-darah yang tersebar di bar Dugs.
“Ya,
padahal sudah kuperingati dia. Itu semua salahnya sendiri,” kata Dugs yang juga
turut membersihkan barnya.
“Yah,
benar. Itu salahnya,” sahut sebuah suara dengan nada ringan namun terdengar
familier karena pernah mereka dengar beberapa saat yang lalu. Mereka semua
seketika menoleh kea rah sumber suara. Sedetik kemudian wajah mereka seolah
dihinggapi terror. Pemilik suara itu tidak lain dan tidak bukan adalah
pelanggan misterius yang seharusnya sudah tewas barusan.
“UWAAA!!!”
Terdengar beberapa teriakan. Yang lainnya hanya bisa terdiam tidak mampu
bicara.
“K-kk-kkena-kena-ppa
kk-auu m-mmas-mas-ih hi-ddu-dup? Bu-bbukan-nya kka-u ssu-ddah sudah
mmmat-ma-mati?” Tanya Dugs tergagap.
“Eh?
Ah…. Hahaha. Benar juga. Barusan aku mati ya?” tanya pelanggan misterius itu
berlagak pikun.
“H-HH-HAN-HAN-TTTU….
HANTU!!!” Teriak salah satu penduduk diikuti teriakan yang lainnya.
“He…
Hei tenang dulu,” ujar pelanggan misterius itu menenangkan mereka.
“Aku
belum mati. Jadi aku bukan hantu, paham?” lanjutnya.
“Mana
mungkin! Ka-kami tadi lihat kau telah tewas tertembak barusan! Tidak mungkin
kau masih hidup! Tubuhmu sudah tak bernyawa, kau pasti hantu!” teriak salah
satu penduduk masih dengan nada penuh ketakutan.
“Ya,
tapi yang terbunuh barusan itu bukan aku,” katanya masih berusaha menjelaskan
kejadian sebelumnya.
“Tidak!
Kau pasti hantu! Siapa lagi yang mati kalau bukan kau! Kami semua melihatnya!
Kalau tidak, kau pasti zombie. Bukan, kau pasti setan! Iblis! Monster!” Teriak
para penduduk histeris ketakutan dengan tubuh gemetar.
“Hah….
Kalian masih tidak percaya juga….” Lelaki itu menunduk. “Baiklah, akan
kubuktikan bagaimana aku masih hidup,” ucapnya kemudian.
Lelaki
itu lalu berjalan ke arah mereka, yang menyebabkan mereka beringsut mundur.
“Ja-jangan
mendekat!” Teriak beberapa orang.
“UWAAA!”
Pelanggan misterius itu tiba-tiba terduduk dan berteriak, membuat yang lainnya
terheran.
“Apa….
Apa yang terjadi!? Uwaaa!!!” teriaknya lagi sambil melihat tubuhnya dan meraba
wajahnya.
‘Ada
apa dengan dia?’ Kata para penduduk dalam hati.
“Hahaha….
Lihat kan? Itu caraku lolos dari maut.” Tiba-tiba terdengar suara. Mereka semua
menoleh kebelakang. Tepat di samping Dugs berdiri pelanggan misterius itu.
“WAAA!!”
teriak Dugs terkejut. Pelanggan misterius itu hanya tersenyum.
“Ke-kenapa
kau jadi dua? Tidak salah lagi, kau pasti setan!” kata salah satu penduduk.
Pelanggan
misterius itu hanya tersenyum. Ia berjalan maju, mendekati dirinya yang seorang
lagi yang terduduk dengan tampang ketakutan. Dia lalu membalikkan badannya ke
arah para pelangan lain yang masih ketakutan dan kebingungan.
“Inilah
rahasianya,” katanya sambil mengambil sebuah tabung reaksi kecil berisi cairan
bewarna bening dari saku jubah coklat kusamnya. Pelanggan misterius berambut
hijau itu membuka tutup tabung itu. Tiba-tiba, dirinya yang terduduk ketakutan
tadi perlahan-lahan berubah menjadi salah satu pelanggan lain.
“Kau….
Yoji?!” teriak salah satu pelanggan di sana menyadari kalau orang yang terduduk
ketakutan tadi itu adalah temannya. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan begitu
pula dengan yang lainnya dan menyadari bahwa salah satu teman mereka yang
bernama Yoji telah hilang.
“Sejak
kapan….?”
“Aku
bertukar tempat dengannya sesaat setelah aku menyebarkan bau dari tabung ini.”
Dia menunjukkan tabung yang ia keluarkan dari saku satunya lagi.
“Seperti
yang kalian lihat, aku bukan setan, iblis ataupun monster. Aku adalah seorang Alchemist.”
“Al-Alchemist?
Maksudmu, orang yang membuat hal-hal aneh dan berkelana untuk mengumpulkan
bahan-bahan untuk membuat hal-hal aneh tersebut?” tanya salah satu pelanggan
berambut coklat.
“Bukan
membuat hal-hal aneh sih…. Tapi yang kau
bilang itu cukup benar. Alchemist
adalah orang yang bertualang mencari bahan untuk percobaan pembuatan
barang-barang penemuan mereka. Misalnya, aku spesialis membuat barang berbentuk
liquid yang dapat mempengaruhi orang lain melalui indra penciumannya.
Contohnya, liquid berwarna merah in,.” Katanya sembari menunjukkan tabung yang
berisi cairan berwarna merah.
“Liquid ini dapat membuat otak orang yang mencium
baunya berhenti bekerja selama satu menit, sehingga aku bisa melakukan semua
hal dengan leluasa dalam satu menit tersebut. Karena selama satu menit fungsi
otak kalian tidak bekerja, termasuk fungsi otak yang menangkap sinyal dari
mata, maka aku dapat menukar tempatku dengan orang yang bernama Yoji ini tanpa
kalian sadari. Setelah otak kalian bekerja kembali, otak masih meneruskan
sinyal yang dikirim oleh mata sebelumnya, yang memberi informasi kepada otak
bahwa akulah yang masih berdiri di sana, bukan Yoji,” jelasnya.
“Jadi
maksudmu, kau bisa melakukan apapun selama 1 menit tersebut, dan setelah 1
menit itu habis, otak kami tetap melanjutkan gambaran yang ditangkap sebelumnya
seolah-olah 1 menit itu tak pernah terjadi, termasuk saat kamu menukar tempatmu
dengan Yoji tadi?” tanya Dugs memastikan.
“Yap!
Tepat sekali. Jadi walaupun sebenarnya kami sudah bertukar tempat, otak kalian
tetap mengira bahwa akulah yang berada di sana, bukan Yoji. Hal ini terjadi
karena sistem otak tidak menerima informasi selama 1 menit tersebut, sehingga
otak tetap melanjutkan informasi sebelumnya dan menipu penglihatan kalian,” katanya
gembira karena berhasil menjelaskan triknya kepada yang lain.
“Jadi
sistemnya seperti hipnotis ya?” simpul salah seorang pelanggan.
“What?!
No, no, no. Jangan samakan ilmu kimia dengan ilmu supranatural ya. Semua hal
yang kulakukan itu dapat dijelaskan dengan logika, mengerti?” bantahnya karena merasa
direndahkan kemampuannya.
“Lalu,
kenapa kau menceritakan trikmu itu pada kami. Mungkin saja kami akan
melaporkannya kepada Louverdis Family kalau kau belum mati, kan?” tanya Dugs
penasaran.
“Yah….
Sebenarnya itu karena aku ingin menolong
kalian. Aku bukan tipe Alchemist yang hanya bertualang mencari bahan untuk
penelitian. Aku ingin kemampuanku dalam bidang Alchemy dapat digunakan untuk
hal-hal baik. Karena itu selain mencari bahan penelitian, aku juga berkelana….
Yah, bisa dikatakan aku juga berkelana untuk menumpas kejahatan di dunia ini,”
katanya dengan nada bangga.
Dugs
dan para pelanggan lainnya tersenyum geli karena ucapannya.
“Kau,
benar-benar orang yang menarik. Kupikir Alchemist itu adalah orang-orang aneh
dan sinting yang hanya membuat barang-barang aneh dan berbahaya serta
menjualnya kepada orang-orang jahat. Seperti pistol yang dipakai orang-orang
dari Louverdis Family tadi, bukankah pistol itu juga dibuat oleh para
Alchemist?” Kata Dugs.
“Ya,
itu benar. Kebanyakan Alchemist hanyalah orang sinting, gila dan aneh. Membuat
senjata dan benda aneh untuk orang-orang jahat. Kau tahu, para Alchemist yang
malas untuk pergi dan mengumpulkan bahan sendiri mengandalkan uang yang mereka
dapat dari hasil menjual barang buatan mereka kepada para penjahat. Dengan
begitu, mereka bisa membeli bahan-bahan langka dengan mudah di pasar gelap.
Tapi aku menjadi seorang Alchemist bukan hanya demi penelitian untuk membuat
sesuatu, tapi juga untuk menolong orang-orang yang kesusahan dari ulah
orang-orang jahat yang dibantu oleh para Alchemist gila itu. Agar para
Alchemist itu sadar tidak ada untungnya menolong orang jahat dan kejahatan
dapat dibasmi dari dunia ini.”
“Kalau
begitu, apa yang ingin kau lakukan kepada Louverdis Family?” Tanya Dugs lagi.
“Hmm….
Mungkin aku akan mencari tahu siapa Alchemist yang membantu mereka terlebih
dahulu. Lalu aku akan mengalahkan semua anggota Louverdis Family dan akhirnya
Alchemist itu sadar bahwa perbuatannya salah. Bagaimana?” katanya mengutarakan
rencananya.
“Terserahmulah.
Kalau kau ingin melakukan itu, sebaiknya kau cepat pergi sebelum anggota
Louverdis Family kembali kemarim,” kata Dugs memperingatinya.
“Oke.
Kalau begitu aku pergi dulu,” ucapnya lalu lalu melangkah keluar bar.
“Sebelum
pergi, boleh aku tanya beberapa hal?” tanya Yoji yang sudah tersadar dari
kebingungannya dan berdiri.
“Hmm?
Apa?” tanya laki-laki itu berbalik.
“Yang
pertama, siapa orang yang terbunuh oleh keluarga Louverdis tadi?”
“Ohh…
Saat mereka mengarahkan pistol kearahku, aku membuka tutup tabung reaksi ini
dan membuat orang yang berada dalam bar ini mencium baunya lalu menukar diriku
dengan salah satu dari kawanan mereka,” jelasnya.
Yoji
tampak mengangguk-angguk mengerti begitu juga dengan Dugs dan penduduk lainnya.
“Pertanyaan
kedua, tabung yang berisi liquid bening itu fungsinya apa? Kenapa saat kau
membuka tutupnya orang-orang jadi tersadar kalau yang ada ditempatmu itu tadi
itu aku?”
“Liquid
bening ini berfungsi untuk menetralkan pengaruh dari liquid merah. Walaupun
liquid merah berfungsi untuk memparalyzed otak selama satu menit, saat satu
menit itu habis, seharusnya otak akan menerima gambaran baru dari mata yang
memberi informasi kalau yang ada disitu adalah kau dan bukan aku. Tapi karena
efek dari liquid merah, otak tidak dapat menerima informasi terbaru dari mata
dan sebaliknya memberi kalian memori palsu. Berkat Liquid bening yang
menetralkan pengaruh liquid merah, mata jadi dapat mengirim gambaran baru dan
memberi informasi bahwa yang ada di sana bukan aku melainkan Yoji. Bukti
lainnya, kalian juga bisa lihat kembali mayat yang ada di dalam kantung mayat tadi,” jelasnya
panjang lebar.
“Hmm….”
Yoji dan lainnya hanya bisa mengangguk-angguk setengah mengerti.
“Kalau
begitu pertanyaan terakhir, siapa namamu?”
Lelaki
itu hanya tersenyum dan melanjutkan kembali jalannya keluar bar. Dia membuka
pintu bar itu dan berkata,
“Aku
ingin kalian menjadi saksi. Kalau nanti Louverdis Family berhasil kuhancurkan,
kalian harus ingat bahwa lelaki yang bernama ‘Leon’ inilah yang menghabisinya,”
katanya lalu menutup pintu bar dan berjalan pergi.
~~~~~~~
Langganan:
Posting Komentar
(Atom)
Search
Archives
-
▼
2014
(29)
-
▼
Juni
(29)
- She's a Vampire: Chapter 5 Bag 4
- She's a Vampire: Chapter 5 Bag 3
- She's a Vampire: Chapter 5 Bag 2
- She's a Vampire: Chapter 5 Bag 1
- She's a Vampire: Chapter 4 Bag 3
- She's a Vampire: Chapter 4 Bag 2
- She's a Vampire: Chapter 4 Bag 1
- The Almighty Alchemist: Leon's Tale - Act 1 Ch 4 (B)
- The Almighty Alchemist: Leon's Tale - Act 1 Ch 4 (A)
- The Almighty Alchemist: Leon's Tale - Act 1 Ch 3 (B)
- The Almighty Alchemist: Leon's Tale - Act 1 Ch 3 (A)
- Short Story: Because Night and Day Cannot Stand To...
- The Almighty Alchemist: Leon's Tale - Act 1 Ch 2 (B)
- The Almighty Alchemist: Leon's Tale - Act 1 Ch 2 (A)
- She's a Vampire: Chapter 3 Bag 4
- She's a Vampire: Chapter 3 Bag 3
- She's a Vampire: Chapter 3 Bag 2
- She's a Vampire: Chapter 3 Bag 1
- The Almighty Alchemist: Leon's Tale - Act 1 Ch 1 (B)
- The Almighty Alchemist: Leon's Tale - Act 1 Ch 1 (A)
- The Almighty Alchemist: Leon's Tale - Introduction
- She's a Vampire: Chapter 2 Bag 3
- She's a Vampire: Chapter 2 Bag 2
- She's a Vampire: Chapter 2 Bag 1
- She's a Vampire: Chapter 1 Bag 4
- She's a Vampire: Chapter 1 Bag 3
- She's a Vampire: Chapter 1 Bag 2
- She's a Vampire: Chapter 1 Bag 1
- She's a Vampire: Introduction
-
▼
Juni
(29)
Categories
- Action (24)
- Adventure (9)
- Comedy (15)
- Drama (15)
- Fantasy (9)
- horror (1)
- mystery (1)
- Romance (15)
- Scifi (9)
- She’s a Vampire (15)
- short story (1)
- Supernatural (15)
- The Almighty Alchemist: Leon's Tale (9)

0 komentar:
Posting Komentar